Sabtu, 24 Desember 2011

Askep ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas)

1. Definisi '
  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah infeksi atau peradangan yang menyerang saluran pernafasan atas; mulut, hidung sampai tenggorokan.
  • Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
  • Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).
  • Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli). Terjadinya Pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneomonia (baik Pneumonia maupun bronkopneumonia) disebut “Pneumonia” saja.

2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan
     System pernafasan terdiri dari hidung , faring , laring ,trakea , bronkus , sampai dengan alveoli  dan paru-paru.

Fisiologi Pernafasan
Pernafasan paru-paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru.  Sistem pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan paru-paru.
1.    Hidung merupakan saluran pernafasan yang pertama , mempunyai dua lubang/cavum nasi. Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara , debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung . hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Drs. H. Syaifuddin. B . Ac , th 1997 , hal 87 )
2.    Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan , faring terdapat dibawah dasar tengkorak , dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher . faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu nasofaring , bagian tengah dengan istimus fausium disebut orofaring , dan dibagian bawah sekali dinamakan laringofaring .(Drs .H.syafuddin. B.Ac 1997 hal 88).
3.    Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin), panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa . trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri (Drs .H . Syaifuddin .B. Ac th 1997, hal 88-89) 
4.    Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri , bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung – ujung nya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli (H.Syaifuddin  B Ac th1997, hal 89-90).
5.    Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung – gelembung .paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus . Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum  mediastinum. Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri.besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Hanya sebagian kecil udara ini, kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut . sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter. (Drs. H. Syaifuddin . B.Ac .th 1997 hal 90 , EVELYN,C, PIERCE , 1995 hal 221 ).
Pernafasan ( respirasi ) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh ( inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh ( ekspirasi ) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru .proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu:
  1. Ventilasi  pulmoner.
Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar,  akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali,  maka udara terdorong keluar.  (NI LUH GEDE.Y.A.SKp.1995.hal 124.  Drs.H.Syaifuddin.B.Ac.1997.hal 91)                           
  1. Difusi Gas.
Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 dan CO3  atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanann rendah. Difusi  gas melalui membran pernafasan  yang dipengaruhi oleh factor ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi membran, koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. Dalam Difusi gas ini pernfasan yang  berperan penting yaitu alveoli dan darah. (Ni Luh Gede.Y.A. SKP. Th 1995 hal 124, Drs. H. Syaifuddin. B.Ac.1997  hal 93 .Hood .Alsegaff  th 1995 . hal 36-37)
  1. Transportasi Gas
Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah ( aliran darah ). Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisa 3 % yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel .(Ni Luh Gede Y. A. Skp th1995 hal 125 Hood Alsegaff th 1995 hal 40).
Di dalam paru-paru karbondioksida merupakan hasil buangan menembus membran alveoli, dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai pada mulut dan hidung.
Proses pertukaran oksigen dan karbondioksida, konsentrasi dalam darah mempengaruhi dan merangsang pusat pernafasan terdapat dalam otak untuk memperbesar kecepatan dalam pernafasan sehingga terjadi pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 lebih banyak.




2.3 Klasifikasi Penyakit ISPA
          Menurut Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA, penyakit ISPA dibagi menjadi dua golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia.
                    Untuk kelompok umur <2 bulan klasifikasi dibagi atas :
Pneumonia berat
Bukan Pneumonia
1.   Nafas cepat lebih dari 60 x/menit
2.   Tampak tarikan dinding dada
3.  Diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz
1. Tidak ada nafas cepat (nafas kurang dari 60 x/menit
2. Tidak ada tarikan dinding dada/bagian bawah ke dalam yang kuat
    
Untuk kelompok umur 2 bulan -<5 tahun klasifikasi dibagi atas :
Pneumonia berat
Pneumonia
Bukan  Pneumonia
1.   Tampak tarikan dinding dada/bagian bawah ke dalam yang kuat


1.   Tidak ada tarikan dinding dada/bagian bawah ke dalam yang kuat
2.   Nafas cepat:
-  bayi umur 2 bulan - < 12 bulan lebih dari 50 x/menit
-  anak umur 1 tahun - < 5 tahun lebih dari 40 x/menit
1.   tidak ada nafas cepat
2.   tidak ada tarikan dinding dada/bagian bawah ke dalam yang kuat.
3.   batuk pilek biasa

2.4 Etiologi
 Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus. Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus Penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
1.    Virus Utama : – ISPA atas : Rino virus ,Corona Virus,Adeno virus,Entero Virus.
2.    ISPA bawah : RSV,Parainfluensa,1,2,3 corona virus,adeno virus
3.    Bakteri Utam : Streptococus,pneumonia,haemophilus influenza,Staphylococcus aureus.
4.    Pada neonatus dan bayi muda : Chlamidia trachomatis, pada anak usia sekolah : Mycoplasma pneumonia.

2.5 Faktor Resiko
  1. Faktor diri (host) : umur,jenis kelamin,status gizi,kelainan congenital,imunologis,BBLR dan premature.
  2. Faktor lingkungan : Kualitas perawatan orang tua,asap rokok,keterpaparan terhadap infeksi,social ekonomi,cuaca dan polusi udara.
2.6 Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
  1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
  2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
  3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
  4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.


2.7 Tanda dan Gejala
2.7.1 Tanda dan gejala dari penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
1.   Batuk
2.   Nafas cepat
3.   Bersin
4.   Pengeluaran sekret atau lendir dari hidung
5.   Nyeri kepala
6.   Demam ringan
7.   Tidak enak badan
8.   Hidung tersumbat
9.   Kadang-kadang sakit saat menelan

2.7.2 Tanda-tanda bahaya klinis ISPA
1.    Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
2.    Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
3.    Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
4.    Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak

2.8  Cara Penularan
Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dapat menular melalui udara dengan cara batuk atau bersin.





2.9  Penatalaksanaan
2.9.1  Penatalaksanaan Medis
a.    Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian multivitamin dll.
b.    Antibiotik :
c.    Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
d.   Utama ditujukan pada S.pneumonia,H.Influensa dan S.Aureus
e.    Menurut WHO : Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol,Amoksisillin,Ampisillin,Penisillin Prokain,Pnemonia berat : Benzil penicillin,klorampenikol,kloksasilin,gentamisin.
f.     Antibiotik baru lain : Sefalosforin,quinolon dll.

2.9.2 Perawatan
          Prinsip perawatan ISPA antara lain :
a.      Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
b.      Meningkatkan makanan bergizi
c.      Bila demam beri kompres dan banyak minum
d.     Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
e.      Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
f.       Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek
g.      Mengatasi panas (demam) dengan memberikan kompres, memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
h.      Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

2.10 Cara Mencegah terjadinya ISPA Berulang 
     Cara mencegah terjadinya ISPA berulang yaitu dengan cara:
1. Berikan makanan makanan yang bergizi
2. mintalah anak untuk diimunisasi secara lengkap
3. Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan
4. Immunisasi.
5. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

2.11 Konsep Asuhan Keperawatan
2.11.1 Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan ISPA :
a.        Riwayat : demam,batu,pilek,anoreksia,badan lemah/tidak bergairah,riwayat penyakit pernapasan,pengobatan yang dilakukan dirumah dan penyakit yang menyertai.
b.        Tanda fisik : Demam,dyspneu,tachipneu,menggunakan otot pernafasan tambahan,faring hiperemis,pembesaran tonsil,sakit menelan.
c.         Faktor perkembangan : Umum ,tingkat perkembangan,kebiasaan sehari-hari,mekanisme koping,kemampuan mengerti tindakan yang dilakukan.
d.        Pengetahuan pasien/keluarga : pengalaman terkena penyakit pernafasan,pengetahuan tentang penyakit pernafasan dan tindakan yang dilakukan.
2.11.2 Diagnosa Keperawatan
1.      Peningkatan suhu tubuh bd proses inspeksi
2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreksia
3.      Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil
4.      Resiko tinggi tinggi penularan infeksi b.d tudak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan  imun)

2.11.3 Intervensi dan Rasionalisasi
1. Peningkatan suhu tubuh bd proses inspeksi
Tujuan : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37, 50
Intervensi
Rasionalisasi
1.      Observasi tanda – tanda vital


2.      Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada kepala / axial.
3.      Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
4.      Atur sirkulasi udara.
5.      Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.
6.      Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit.
7.      Kolaborasi dengan dokter :
• Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial
• antipiretika

1.     Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya.
2.     Degan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara .
3.     Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.

4.     Penyedian udara bersih.
5.     Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.
6.     Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas.
7.     Untuk mengontrol infeksi pernapasan
Menurunkan panas



2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreksia
Tujuan : klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
* klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan.
* Tidak menunujukan tanda malnutrisi.




Intervensi
Rasionalisasi
1.     Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari

2.     Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat
3.     Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.
4.     Tingkatkan tirai baring.
5.     Kolaborasi
• Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien


1.     Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
2.     Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total
3.     Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.


4.     Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic
5.     Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.



3. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.
Tujuan : Nyeri berkurang / terkontrol

Intervensi
Rasionalisasi
1.     Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.


2.     Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok.
3.     Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak.



4.     Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat

5.     Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
• Steroid oral, iv, & inhalasi
• analgesic
1.     Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan.
2.     Mengurangi bertambah beratnya penyakit.


3.     Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.


4.     Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan.
5.     Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri




4. Resiko tinggi tinggi penularan infeksi b.d tudak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan : tidak terjadi penularan dan tidak terjadi komplikasi
Intervensi
Rasionalisasi
1.     Batasi pengunjung sesuai indikasi

2.     Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas


3.     Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah
4.     Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang
5.     Kolaborasi
Pemberian obat sesuai hasil kultur

1.     Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.
2.     Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
3.     Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan

4.     Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi



5.     Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas / atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi


DAFTAR PUSTAKA

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa  oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC
Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition & Classification 20012002,Philadelpia,USA
Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.
Materi pelatihan kader dan penyegara kader (2004), PSIK UMJ, Jakarta
Naning R,2002,Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Handout kuliah Ilmu Kesehatan Anak) PSIK FK UGM tidak dipublikasikan
Pertemuan Ilmiah Tahunan V (PIT-5) Ilmu Penyakit Dalam PAP di Sumsel. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang
Rani. A, 2003. 100 Juta Episode Diare Per Tahun. Farmacial, Jakarta Dalam
Soegijanto, S (2002). Ilmu penyakit anak; diagnosa dan penatalaksanaan.
     Jakarta: Salemba medika
Suriadi,Yuliani R,2001,Asuhan Keperawatan pada Anak,CV sagung Seto,Jakarta
Sya’roni, Akmal dkk. 2003. Naskah Lengkap Workshop Tropik dan Infeksi.
Whalley & wong. (1991). Nursing Care of Infant and Children Volume II   book 1. USA: CV. Mosby-Year book. In
Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. (1997). Beberapa Masalah Perawatan
.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar