Sabtu, 24 Desember 2011

Bronkopneumonia


1. Definisi BP
  • Bronchopneumonia adalah suatu proses inflamasi yang terjai pada kedua lapang paru hingga bronchus, termasuk dinding alveolus, jaringan peribronchial serta jaringan interlobuler (P.K. S.T, Carolus,2000). 
  • Bronchopneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit ini adalah infeksi akut jaringan paru oleh mikro-organisme. Sebagian besar Bronchopneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus (Corwin.J.E, 2001). 
  • Bronchopneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agens infeksius (Brunner & Suddart, 2002).

2. Etiologi
Penyebab tersering Bronchopneumonia dibagi menjadi 4 bagian
1. bakteri       : Diplococcus Pneumoniae, Pneumococus, steptrokokus Hemolyticcus. Bakteri
                        Staphylococu aureus, hemophilusin ,fluenzae, bachillus freedlander, 
                        mycobacterium tuberculosi
2. Virus         : Respiratory syncytial virus, virus influenza, andenovirus, virus sitomegalik,        
                        mycoplasma pneumonia.
3. Jamur         : histoplasma cap sulatam, cyptococcus neofarmans, asprgillus species,
                       blastomycws, ematitides, coccidroies imminitis, candia albicans
 
3. Patofisiologi
Dari berbagai macam penyebab Bronchopneumonia, seperti virus, bakteri, jamur, dan riketsia, pneumonitis hipersensitive dapat menyebabkan penyakit primer. Bronchopneumonia juga dapat terjadi akibat aspirasi, yang paling jelas adalah pada klien yang diintubasi, kolonisasi trakhea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernafasan atas yang terinfeksi, namun tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan Bronchopneumonia (Christman, 1995 dalam Asih & Effendy, 2004).
Menurut Asih & Effendy (2004), mikroorganisme dapat mencapai paru melalui beberapa jalur, yaitu :
1)      Ketika individu terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, mikroorganisme dilepaskan ke dalam udara dan terhirup oleh orang lain.
2)      Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol (gas nebulasi) dari peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi.
3)      Pada individu yang sakit atau higiene giginya buruk, flora normal orofaring dapat menjadi patogenik.
4)      Staphilococcus dan bakteri gram-negatif dapat menyebar melalui sirkulasi dari infeksi sistemik, sepsis, atau jarum obat IV yang terkontaminasi.
Pada indivudu yang sehat, patogen yang mencapai paru dikeluarkan atau bertahan dalam pipi melalui mekanisme perubahan diri seperti refleks batuk, klirens mukosiliaris, dan fagositosis oleh makrofag alviolar. Pada indivudu yang rentan, patogen yang masuk ke dalam tubuh memperbanyak diri, melepaskan toksin yang bersifat merusak dan menstimulasi respons inflamasi dan respons imun, yang keduanya mempunyai efek samping merusak. Reaksi antigen-antibodi dan endotoksin yang dilepaskan oleh beberapa mikroorganisme merusak membran mukosa bronkhial dan membran alveolokapiler. Inflamasi dan edema menyebabkan sel-sel acini dan bronkioles terminalis terisi oleh debris infeksius dan eksudat, yang menyebabkan abnormalitas ventilasi-perfusi. Jika Bronchopneumonia disebabkan oleh staphilococcuc atau bakteri gram-negatif dapat terjadi juga nekrosis parenkim paru.
Pada  Bronchopneumonia pneumokokus, organisme S. Bronchopneumoniae meransang respons inflamasi, dan eksudat inflamasi menyebabkan edema alveolar, yang selanjutnya mengarah pada perubahan-perubahan lain (Gbr. 7-1). Sedangkan pada Bronchopneumonia viral disebabkan oleh virus biasanya bersifat ringan dan self-limited tetapi dapat membuat tahap untuk infeksi sekunder bakteri dengan memberikan suatu lingkungan ideal untuk pertumbuhan bakteri dan dengan merusak sel-sel epitel bersilia, yang normalnya mencegah masuknya patogen ke jalan nafas bagian bawah.

4. Stadium Bronchopneumonia Bakterialis
Untuk Bronchopneumonia pneumokokus, terdapat empat stadium penyakit, antara laiin :
1)      Stadium I disebut hiperemia
Mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlansung  di daerah paru yang terinfeksi. Hal ini ditandai oleh peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler ditempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktivan  sel imun dan sel cedera jaingan. Mediatro-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostagladin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan meningkatkan permeabilitas kapiler. Hal ini menyebabkan perpindahan eksudat plasma kedalam ruang interstisium sehingga terjadi penurunan kecepatan difusi gas-gas. Karena oksigen kurang larut dibandingkan dengan karbon dioksida, maka perpindahan gas ini kedalam darah paling terpengaruh, yang sering menyebabkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. Dalam stadium pertama Bronchopneumonia ini, infeksi menyebar kejaringan sekitarnya akibat peningkatan aliran darah dan rusaknya alveolus dan membran kapiler disekitar tempat infeksi seiring dengan berlanjutnya proses peradangan.

2)      Stadium II disebut hepatisari merah
Terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel-sel darah merah, eksudat, dan fibrin, yang dihasilkan oleh pejamu sebagai bagian dari reaksi peradangan.
3)      Stadium III disebut hepatisasi kelabu
Terjadi sewaktu sel-sel darah putih berkolonisasi bagian paru yang terinfeksi. Pada saat ini, endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera daan terjadi fagositosis sisa-sisa sel.
4)      Stadium IV disebut resolusi
Terjadi sewaktu respons imun dan peradangan mereda; sisa-sisa sel, fibrin, dan bakteri telah dicerna; dan makrofag, sel pembersih pada reaksi peradangan, mendominasi.

5. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin.J.E (2001), gejala-gejala Bronchopneumonia serupa untuk semua jenis Bronchopneumonia, tetapi terutama mencolok pada Bronchopneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Gejala-gejala mencakup:
1)      Demam dan menggigil akibat proses peradangan.
2)      Batuk yang sering produktif dan purulen.
3)      Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus Bronchopneumoniae), merah muda (untuk staphylococcus aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas aeruginosa).
4)      Krekel (bunyi paru tambahan).
5)      Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.
6)      Biasanya sering terjadi respons subyektif dispnu. Dispnu adalah perasaan sesak atau kesulitan bernafas yang dapat disebabkan oleh penurunan pertukaran gas-gas.
7)      Mungkin timbul tanda-tanda sianosis.
8)      Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mukus, yang dapat menyebabkan atelektasis absorpsi.
9)      Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin lansung pada kapiler, atau akibat reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.

6. Diagnosis
Diagnosis Bronchopneumonia ditegakkan dengan mengumpulkan riwayat kesehatan (terutama infeksi saluran pernafasan yang baru saja dialami), pemeriksaan fisik. Rontgen dada, kultur darah (invasi aliran darah, yang disebut bakteremia, sering terjadi), dan pemeriksaan sputum. 
“Untuk mendapatkan sampel sputum yang adekuat, pasien untuk membilas mulut dengan air untuk meminimalkan kontaminasi oleh flora normal mulut. Kemudian pasien diminta untuk napas dalam beberapa kali dan kemudian dengan dalam membatukkan sputum yang keluar ke  dalam wadah steril”.
Sputum juga dapat dikumpulkan melalui aspirasi transtrakea atau bronkoskopi serat optik. Pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sputum atau mereka yang tidak sadar, mempunyai mekanisme imun yang abnormal, atau mengalami Bronchopneumonia setelah minum antibiotik atau ketika dirawat di rumah sakit.

7. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan untuk Bronchopneumonia tergantung pada penyebab, sesui dengan yang ditemukan oleh pemeriksaan sputum pengobatan dan mencakup, antara lain :
1)      Antibiotik, terutama untuk Bronchopneumonia bakterialis. Bronchopneumonia lain juga dapat diobati dengan antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi bakteri sekunder.
2)      Istirahat.
3)       Hidrasi untuk membantu mengencerkan sekresi
4)      Teknik-teknik bernafas dalam untuk meningkatkan ventilasi alveolus dan mengurangi resiko atelektasis.
5)      Juga diberikan obat-obat lain yang spesifik untuk mikro-organisme yang diidentifikasi dari biakan sputum.

8. Perawatan Penderita Bronchopneumonia
à        Perawatan Di Rumah Sakit
  1. Atur posisi semi fowler atau setengah duduk untuk anak atau bayi.
  2. Beri therapi oksigen.
  3. Lakukan suction.
  4. Beri kompres untuk menurunkan demam.
  5. Bila kejang, pasang tongspatel lidah antara gigi geraham dan bersihan jalan nafas.
  6. Pakaikan yang tipis pada bayi dan anak untuk proses penguapan (evaporasi).
  7. Berikan IVFD dan NGT, bila klien shock.

à        Perawatan Di Rumah
à        Pengaturan Suhu Badan
Suhu tubuh ideal bayi adalah 36,5-37 derajat Celcius.
Perawatan bayi dengan metode kanguru bisa digunakan sebagai pengganti perawatan dengan inkubator. Caranya, dengan mengenakan popok dan tutup kepala pada bayi yang baru lahir. Kemudian, bayi diletakkan di antara payudara ibu dan ditutupi baju ibu yang berfungsi sebagai kantung kanguru. Posisi bayi tegak ketika ibu berdiri atau duduk, dan tengkurap atau miring ketika ibu berbaring. Hal ini dilakukan sepanjang hari oleh ibu atau pengganti ibu.

à        Makanan
Air Susu Ibu ( ASI). Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg/BB/hari terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg/BB/hari.
Manfaat Pemberian ASI bagi Bayi
Manfaat ASI bagi bayi :
ü  Nutrien yang sesuai untuk bayi.
ü  Mengandung zat protektif sehingga bayi jarang sakit
ü  Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan.
ü  Menyebabkan pertumbahan yang baik.
ü  Mengurangi kejadian karies dentis (karies gigi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar